Rabu, 23 Januari 2013

A TRUE LOVE FF (CHAPTER 6,7)


CHAPTER 6

          Jam digital kamar Donghae menunjukkan pukul 03.00 pagi KST. Ponsel Minho berdering pertanda ada sebuah sms. Ternyata itu adalah sms dari Park Jiyeon, seorang yeoja yang tadi siang bertemu nya di pesta pertunangan Jessica-Donghae. Ia langsung menuju teras atas sambil membawa ponsel nya dan membaca isi sms tersebut.
Ø  Hei Choi Minho? Good morning. Semoga hari mu menyenangkan. Apa nanti sore kau ada free time? JIYEON.
ü  Good morning too Jiyeon. Ya mungkin aku ada waktu luang, untuk apa?
Ø  Tidak, aku hanya ingin bertemu denganmu sudah lama sekali. Jam 6 sore nanti bisa bertemu di Myeongdong?
ü  Nanti ku kabari kau lagi, aku takut ketahuan Yuri Nuna. Btw jam segini kau belum tidur?
Ø  Yuri Eonnie? Yeojachingu mu itu? dia masih kalah cantik dengan ku. Hahaha. Iya aku tidak bisa tidur nih. Maaf ne aku telah menganggumu
ü  Aniyo, gwenchana kau tidak mengangguku. Yasudah aku tidur dulu ya Ji? Aku ngantuk. Sampe bertemu nanti sore, annyeong J
Ø  Oke, Oppa J annyeong too.. aku sudah tidak sabar nanti hehehe ^____^
Setelah usai membalas sms Jiyeon, Minho kembali ke kamar Donghae untuk tidur. Untung saja, Donghae tidak bangun dan tidak ada yang mencurigai nya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Sengaja ia bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan Yuri. Ia membuat sandwich tuna beserta segelas susu cokelat hangat kesukaan Yuri.
Annyeong sayang… ini aku buatkan sarapan untuk mu”. Minho langsung menyamperi Yuri lalu mengecup kening Yuri, sambil memberi nya sarapan.
Annyeong juga. Makasih ya”. Jawab Yuri dengan sedikit senyum lalu memakan sarapan nya.
“Masakanku enak gak Nun?”. Tanya Minho sambil senyum menatap muka Yuri.
“Enak kok”. Jawab Yuri sambil memberi jempol untuk Minho dan tersenyum.
“Oh iya. Nanti aku jam 6 sore ada reuni SMA ku di Myeongdong”. Kata Minho. Ia lupa dengan janji nya Jiyeon.
“Reuni? Aku boleh ikut?”. Jawab Yuri sambil tersenyum.
“Umm.. sep.seppertinyaa.. kkauu is..isti..rahat..ya kau istirahat aja di rumah. Kamu kan baru sembuh, Nuna”. Jawab Minho dengan sedikit gugup.
Wae? Kau menjawab dengan gugup? Ok kalo itu mau mu. Aku gak apa-apa kok di rumah, sekalian bantuin Sica aja beres2 rumah”. Jawab Yuri dengan senang lalu tersenyum.
            Minho merasa lega dengan jawaban Yuri yang seperti itu. tak  terbesit di benak Yuri, kalo sebenarnya ia ingin bertemu dengan Jiyeon, mantan kekasih Minho dulu saat di SMA.
            Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 KST. Minho segera bersiap-siap agar tidak terlambat, lalu pergi ke Myeongdong menggunakan mobil BMW nya.
“Nuna… aku pergi dulu ne? tidak lama kok. Tolong pamitkan aku dengan Hyung dan Sica Noona ya”. Kata Minho tergesa-gesa sambil mencium kening Yuri.
Ne Minho, sepertinya kau terburu-buru sekali. Apa itu yang kau bawa?”. Tanya Yuri dengan penasaran.
“Iya Nun, aku hampir terlambat. Sebentar lagi jam 6 sore nih. Ini aku photo album saat aku di SMA. Aku mau liatin ke temen-temen yang lain, Nun”. Jawab Minho sambil membuka photo album itu untuk me-yakinkan Yuri.
“Oke deh, hati-hati di jalan ya, honey?”. Kata Yuri sambil memeluk erat Minho.
“Ya sayang. Aku pergi dulu ya? Annyeong”. Jawab Minho sambil membalas pelukan Yuri. Ia langsung segera berangkat ke Myeongdong.
            Di tengah perjalanan, sebenarnya Minho merasa kasihan dan merasa bersalah dengan Yuri, karena secara logika Yuri lebih tua 2 tahun dari nya, dan di samping itu Yuri juga seorang yeojachingu nya. Cepat-cepat Minho menghilangkan pikiran di dalam benaknya itu.
            Jalanan dari Busan menuju Myeongdong agak tersendat dikit, karena di sepanjang pinggir jalan Busan, sedang di adakan festival barang bekas.
Yeobbosaeyo… Jiyeon-ssi?”. Kata Minho dalam telpon.
Yeobbosaeyo.. Ne, Jiyeon imnida. Minho Oppa? Kau dimana? Aku sudah sampai di Myeongdong”. Jawab Jiyeon dengan suara agak keras, karena di Myeongdong sangat ramai.
“Sabar sebentar Ji. Aku terjebak macet di Busan. Bentar lagi aku sampe, disini lagi ada festival. Makanya aku macet”. Kata Minho sambil membunyikan klakson agar tidak menghalangi jalanan mobil.
“Ok, cepat ya? Aku tunggu kau di Abgujong Restaurant. Annyeong”. Belum sempat menjawab, Jiyeon langsung mematikan ponsel nya.
            Syukur sekali, karena hujan, jadi festival barang bekas itu pun di tutup sementara dan jalan sudah mulai lancar karena di atur oleh polisi lalu lintas juga. Minho langsung menyetir ngebut BMW nya, hingga akhirnya ia sampai juga di Myeongdong.
            Petang ini Myeongdong sangat ramai turis asing. Ada dari USA, UK, China, Jepang, bahkan ada juga beberapa turis dari Indonesia. Dan sisa nya lagi orang-orang asli korea. Mungkin kalo di lihat dari helikopter, Myeongdong bisa seperti lautan manusia. Ia langsung menuju Abgujong Restaurant, restoran khusus untuk makanan Korea.
Annyeong, Jiyeon. Kau sudah lama menunggu ya?”. Tanya Minho pada seorang wanita yang sedang duduk di pojok sofa Abgujong, sambil minum susu hangat.
Annyeong, Minho Oppa? Akhirnya kau datang juga. Tidak apa-apa kok Oppa hehe. Oppa ingin pesan apa? Sini biar Jiyeon yang pesenin”. Jawab Jiyeon dengan suara manis nya.
“Umm.. apa ya? Malam ini aku makan malam bersama Yyul Nuna. Jadi, aku mau minum coffee latte aja deh”. Jawab Minho sambil melihat menu makanan.
“Ok, tunggu sini ya Oppa? Aku pesankan dulu”. Kata Jiyeon tersenyum sambil berjalan menuju kasir.
            Abgujong Restaurant termasuk salah satu restoran khusus makanan Korea yang tertua dan terbesar di Seoul. Restoran ini sudah didirikan dari tahun 1995, dan kini restoran ini selalu ramai pengunjung, dari dalam maupun luar negeri.
            Minho menunggu Jiyeon yang sedang memesankan minumannya. Diam-diam, Minho segera mengaktifkan profil silent pada iPhone nya, agar tidak ketahuan jika ada yang menelpon/sms. Beberapa saat kemudian Jiyeon kembali ke tempat duduk nya.
“Sudah Oppa. Sudah ku pesankan kok, tunggu 5 menitan ya Oppa?”. Kata Jiyeon sambil tersenyum.
“Oke, oke. Makasih banyak loh Ji, jadi merepotkan”. Jawab Minho dengan senyuman pula.
“Engga kok Oppa, gwenchana. Omong-omong Oppa kesini sendiri?”. Tanya Jiyeon sambil meminum hot milk nya.
“Iya, aku sendiri. Yyul Nuna dan lainnya gak ikut ada di rumah”. Jawab Minho.
“Kenapa Oppa gak ajak Yyul Eonnie aja? Biar Jiyeon bisa ngobrol”. Kata Jiyeon dengan muka aegyo nya.
“Engg…anii..aniyyoo…tii…tiddd..tidak usah, nanti malah menganggu kita ngobrol. Rumah mu sekarang dimana?”. Jawab Minho dengan sedikit gugup.
“Rumah ku di Busan, Oppa. Di dekat museum tanpa dinding”. Kata Jiyeon.
“Busan???? Wah kebetulan, rumah ku juga di Busan tuh dekat penginapan. Kapan-kapan aku boleh main ke rumah mu?”. Tanya Minho dengan penasaran.
“Boleh banget Oppa!!! Dengan senang hati. Hehehe”. Jawab Jiyeon dengan girang.
            5 menit kemudian, coffee latte pesanan Minho sudah siap saji. Ia bersulang dengan Jiyeon lalu meminum coffee latte yang hangat itu. sebenarnya, perasaan Minho sekarang benar-benar sangat gelisah dan gundah sekali. Ia takut, perbuatan nya ini diketahui Yuri atau Jessica maupun Donghae. Bisa habis dia, bisa saja dia di usir dari rumah Jessica. Ia segera membuang jauh-jauh pikiran aneh itu.
“Yuk Oppa kita minum”. Kata Jiyeon sambil bersulang dengan Minho.
“Abis ini kau mau kemana?”. Tanya Minho.
“Umm… pulang aja mau Oppa? Aku agak gak enak badan”. Jawab Jiyeon dengan wajah lemas.
“Kau sakit? Ya udah nanti biar ku antar pulang ke rumah mu, berhubung kita searah”. Kata Minho sambil memegang kening dan tangan Jiyeon.
“Tidak usah deh Oppa, aku minta jemput Appa ku saja. Kebetulan dia juga ada di rumah”. Jawab Jiyeon.
“Appa mu pasti lelah abis pulang kantor ya? Sudah, biar aku saja yang antar ya?”. Kata Minho sambil tersenyum dan mengelus rambut Jiyeon.
            Mereka menghabiskan minuman mereka dan segera pulang. Di perjalanan, Jiyeon tertidur sangat pulas, mungkin ia lelah dan ia juga tidak juga enak badan, pikir Minho. Minho tidak berani membangunkan Jiyeon, karena ia merasa kasihan dengannya.
            Merasa bosan di dalam mobil, Minho menyetel radio dan mendengarkan lagu “7989 – Kangta ft. Taeyeon”. Penyanyi terkenal di bawah naungan SM Entertaiment itu. Sesekali Minho juga ikut bernyanyi walaupun kurang hapal.
            Sudah sampai di rumah Jiyeon, Minho pun membangunkan Jiyeon. Aduhai, alangkah cantiknya wanita manis ini, pikir Minho. Ingin berlama-lama, ia mengelus rambut Jiyeon dan mencium keningnya. Tersadar, Jiyeon pun terbangun.
“Eungghh…. Kita sudah sampai Oppa?”. Kata Jiyeon sambil terbangun kaget.
“Eeehh.. maa..maaafff Jiii.. iyyaaa kkiiitt… kiittaa sudah sampai, ayo turun”. Jawab Minho gugup sambil menundukkan kepala nya.
“Makasih banyak ya Oppa, lain kali bisa bertemu lagi. Annyeong”. Kata Jiyeon sambil mencium pipi Minho lalu keluar mobil nya dan masuk ke dalam rumah.
           
            Minho segera pulang ke rumah nya. Ternyata semua isi rumah telah tertidur pulas, padahal ini belum larut malam. Minho bersih-bersih lalu segera mengganti pakaiannya. Dan ia langsung menuju teras atas lagi.
            Tak lupa ponsel nya juga selalu ia bawa kemana-mana. Benar saja dugaan Minho, 5 menit kemudian Jiyeon mengirimkan sebuah sms lagi kepada Minho.
Ø  Hai Oppa. Terima kasih kau telah mengantar ku pulang. Lain kali kita bertemu lagi ya hehe ^___^
ü  Ne Jiyeon sama-sama. Ya boleh kapan-kapan kita bertemu lagi. Kau belum istirahat?
Ø  Belum Oppa. Aku masih ingin bersantai dulu sebelum tidur. Yyul Eonnie sudah tidur?
ü  Sudah kok. Kenapa?
Ø  Aku takut Yyul Eon mengetahui ini semua dan ia tambah membenciku. Maafkan aku Oppa telah menganggu hubungan mu dengan Yyul Eon.
ü  Aniyo, selama kita gak kepergok, apa salah nya? Hehehe yasudah, aku tidur ya Ji? Good night, have a nice dream
Ø  Ok Oppa.. gnite too and have a nice dream too ^__^
Minho segera menyudahi sms-an nya dengan Jiyeon. Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari bawah yang menuju ke teras. Minho pun berpura-pura sedang memandangi bintang-bintang dan bulan di langit.
“Minho? Sedang apa disini? Kau sudah pulang?”. Tanya Yuri sambil menghampiri Minho.
“Hai Nuna. Iya baru saja pulang, ini biasa aku lagi ngeliatin bintang-bintang cantik kayak Nuna”. Jawab Minho sambil mencolek dagu Yuri dan memeluknya.
“Hahaha kau ini tak usah gombal. Ohiya, boleh ku pinjam ponsel mu sebentar? Aku ingin sms Oppa ku dulu. Kasihan, sudah lama aku gak ketemu. Kebetulan pulsa ku sedang kosong. Bolehkah?”. Tanya Yuri pada Minho. Minho sejenak berpikir lama, karena ia takut sms nya dengan Jiyeon terbaca oleh Yuri.
“Bboo..boolle..boleeehh..kook Nuna. Nih ponsel ku”. Jawab Minho sedikit gugup sambil memberikan ponsel nya.
“Asyikkk!!! Sebentar yaa aku sms Oppa ku dulu”. Kata Yuri sambil kegirangan.
            Yuri segera sms Oppa nya yang di Incheon. Setelah selesai sms, tak sengaja Yuri memencet ikon kotak masuk di menu messages. Dan disana ia membaca pesan dari Jiyeon. Kata-kata dan bahasa Jiyeon adalah bahasa manja, seakan-akan Minho ialah namjachingu nya. Mengetahui hal itu, Yuri emosi berat dan akhirnya meninggalkan Minho.
“Nih. Terima kasih”. Kata Yuri dengan cetus sambil memberi ponsel kembali ke Minho.
“Loh? Nuna kau kenapa? Kok marah gitu?”. Jawab Minho sambil menghampiri Yuri.
“Tak apa. Aku ngantuk, sudah ya besok saja”. Jawab Yuri sambil membuang muka dengan nada judes dan jutek.
            Minho langsung merasa bersalah. Ia merenung, mengakui semua kesalahannya. Ia takut Yyul akan marah besar sehingga hubungan mereka tak se-mesra dan se-romantis dulu. Ia pusing, dan segera masuk ke dalam rumah untuk tidur malam




















CHAPTER 7

          Pagi hari telah tiba. Kali ini Minho bangun sangat pagi sekali, dan terlihat sangat terburu-buru. Sepertinya ia ingin pergi berbelanja ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan di rumah yang telah habis.
“Minho!!! Kau ke supermarket sekarang ya? Banyak kebutuhan yang hampir habis. Ini lists dan ini uang nya. Jangan sampai melebihi apa yang ku kasih ya!”. Kata Jessica sambil memberi selembar kertas notes yang berisi lists keperluan yang di butuhkan.
“Oke Nuna. Yyul Nuna mana?”. Jawab Minho.
“Tuh dia disana”. Jawab Jessica sambil menuju ke arah dapur. Minho segera menghampiri Yuri yang sedang memasak omelet.
“Sayang, aku ke supermarket dulu ya? Sica Nuna menyuruhku membeli ini”. Kata Minho sambil memeluk Yuri dan mencium kening Yuri. Yuri hanya tersenyum paksa dan mengangguk.
            Minho segera berangkat dengan berjalan kaki. Ia melewati rumah Jiyeon, dan tanpa sengaja saat Minho melewati depan rumah Jiyeon, ia juga keluar gerbang rumah nya. Dan mereka bertemu lagi.
“Pagi Oppa. Kau mau kemana?”. Tanya Jiyeon dengan ramah kepada Minho.
“Pagi, Ji. Aku mau ke supermarket. Kau?”. Jawab Minho sambil tersenyum.
“Sama dong Oppa. Kita jalan bareng yuk?!”. Kata Jiyeon sambil menggandeng tangan Minho.
            Mereka langsung jalan ke supermarket berdua. Ternyata, dari teras atas Yuri mengintip itu semua dan ia segera mengadu pada Jessica dan Donghae. Ia sudah sangat kesal dengan perbuatan Minho, ia merasa ia di duakan atau di tusuk dari belakang.
“Jessica, Donghae Oppa kemana? Aku ingin ngomong sama kalian berdua”. Kata Yyul berlari dari tangga dengan sangat emosinya.
“Dia di luar. Eh, ada apa dengan kau?”. Tanya Jessica khawatir.
“Ayo Sica. Kita bicarain di luar aja sama Donghae Oppa”. Kata Yuri sambil menggandeng tangan Sica keluar.
“Oppa, aku ingin ngomong ke kalian masalah si Minho sama mantan kekasihnya si Jiyeon”. Kata Yuri sambil emosi.
“Ada masalah apa kau dengannya?”. Jawab Donghae dengan serius.
“Jadi begini Jessica dan Hae Oppa. Semenjak pertemuannya dengan Park Jiyeon, mantan kekasih Minho pada saat SMA dulu, Minho berubah. Dia lebih banyak keluar rumah daripada menghabiskan waktu bersama kita. Kemarin malam, aku minjem ponsel nya untuk sms Oppa ku. Gak sengaja, inbox nya ku buka. Di situ aku lihat sms dari Jiyeon. Jiyeon itu cewe genit dan manja. Dia bener-bener gak tau diri, kalo aku tuh siapa nya Minho.  Minho juga, dia namja genit yang gak tau malu. Aku benci sama mereka. Dan tadi, baru saja Minho pamit mau ke supermarket, taunya ku intip dari teras atas dia malah pergi nya bareng si Jiyeon sambil pegangan tangan. Gimana aku gak shock?”. Kata Yuri sambil menangis.
Jeongmal? Apakah Minho berbuat seperti itu? sudah sabar dulu Yyul. Kita selidikin sama-sama masalah ini ya?”. Jawab Donghae dengan prihatin.
“Kamu sabar ya Yyul. Kita berdua sayang sama kamu, kita bakal bantu kamu kok. Sekarang gini deh, gimana kalo kita susul Minho ke supermarket? Untuk buktiin dia bener pergi bareng Jiyeon atau enggak. Mau gak?”. Kata Jessica memberi ide sambil memeluk Yuri.
“Ya sayang! Aku setuju. Ayo kita berangkat sekarang. Keburu dia pulang, kalo sampe disana kita jangan sampe ketauan siapa-siapa oke? Let’s go!”. Kata Donghae sambil berlari mengambil kunci mobil dan segera berangkat ke Hanok Supermarket.
            Di tengah perjalanan, Yuri benar-benar menahan emosi nya yang tertahan sehingga ia menangis. Jessica langsung menenangkan nya. Untungnya hari ini jalanan ke Hanok memang cukup lancar, tidak seperti biasanya. Hanya 10 menit perjalanan saja mereka langsung sampai. Setelah sampai, mereka lalu segera masuk ke dalam supermarket lalu diam-diam mencari keberadaan Minho dan Jiyeon disana.
“Kita harus mengendap-endap supaya kita gak ketauan sama Minho. Kita akan menguak kebenaran ini. Oke? Sekarang kita pisah jalur ya. Sayang, kamu ke lorong perlengkapan mandi, Yuri kamu ke lorong snack dan aku, aku akan stay di sini menunggu nya. Oke? Ayo kita laksanakan”. Kata Donghae sambil memberikan tos pada Jessica dan Yuri.
            Mereka langsung pergi ke tempat masing-masing yang telah di beritahu Donghae. Setelah menunggu lama, Minho dan Jiyeon tidak ada juga disana. Mungkin mereka belum sampai, karena mereka jalan kaki. Setelah beberapa lama kemudian, Donghae menelpon Jessica dan Yyul untuk kembali ke tempat tadi bertemu, karena ia telah melihat Minho dan Jiyeon sedang membeli buah-buahan, minuman segar dan beberapa French Fries yang sudah siap untuk di goreng.
            Jessica dan Yyul segera kembali ke tempat tadi. Mereka bertiga sekarang melihat perbuatan yang di lakukan oleh keduanya. Mereka berdua terlihat sangat mesra seperti layaknya seorang kekasih yang baru melakukan honey moon. Mereka berpegangan tangan, sering juga Minho merangkul Jiyeon dan mengecup kening nya.
“Aku sangat benci Minho. Sangat benci aku sudah tidak bisa menahan emosi ini. Aku harus benar-benar melabrak mereka”. Kata Yuri sambil sangat marah dan sedikit menangis.
“Sebentar, sayang. Tahan dulu, jangan emosi dulu. Lebih baik kita rekam aktivitas mereka, lalu kita bicarakan semua nya di rumah dengan cool mind”. Jawab Jessica sambil memegang tangan Yuri.
“Yyul udah ga bisa kayak gini terus, Sica dan Hae Oppa. Kalo di biarkan terus, malah makin menjadi-jadi nantinya”. Kata Yuri dengan geram nya.
“Tolong sekali tahan dulu emosi mu Yyul. Emosi gak akan bisa menyelesaikan semua masalah yang ada. Kau paham? Bersabar sebentar saja. Ok?”. Kata Donghae.
            Melihat hal ini, Yuri betul-betul sangat meledak-ledak emosi yang ada. Tanpa pikir panjang akhirnya ia menyampari si Minho dan Jiyeon lalu mulai melabrak nya. Sampai-sampai sebagian pengunjung supermarket saat itu menyaksikan kejadian itu.
“Minho-ssi!!!!”. Teriak Yuri dari kejauhan sambil berjalan dengan cepat.
“Nuna???!!!!”. Jawab Minho sambil melepaskan genggaman tangan dari Jiyeon.
“Oppa??? Kenapa dia ada disini? Kata mu Yyul Eon gak akan ada disini”. Kata Jiyeon dengan sedikit ketakutan.
“Oh… bagus banget ya kamu Minho! Bilang mau ke supermarket, buru-buru pantesan aja. Kamu janjian kan sama yeoja genit itu?! kamu bilang katanya gak akan lagi deketin dia. Dasar kamu cowok buaya! Kau pembohong telah menghianati ku”. Kata Yuri sambil marah.
“Bbeenntaarr.. Nunn.. Nunnaa.. aku jelaskan dulu. Apa yang kau katakana tadi salah Nun. Sekarang kita pulang aja, biar di bicarain di rumah ok? Gak enak disini banyak orang yang liatin kita”. Jawab Minho sambil memegang tangan Yuri.
“Sudah lepaskan tanganku! Jangan lagi kau menyentuhku Choi Minho-ssi!!! Biarkan semua orang tau masalah ini! Dan untukmu yeoja genit! Kau tidak pernah sadar ya kalo Minho sudah punya yeojachingu yang sebentar lagi ingin tunangan???!!!! Kau tidak punya perasaan??!!! Hah?!!!!!!!!!!!!!”. Kata Yuri sambil menyamperi Jiyeon dan melotot padanya. Jiyeon segera menunduk karena ketakutan.
“Tidd..tiddaa…tidaaakk Eonnie. Aku akan menjelaskan ini semua, maafkan aku”. Jawab Jiyeon dengan gugup.
“Hanya maaf saja yang bisa kau katakan?!!!! Kau pikir hanya 4 kata saja bisa membalas semua kesalahnku pada mu? Kalian itu umurnya masih di bawah aku, kalian udah kurangajar ya sama aku!”. Jawab Yuri dengan nada tinggi sambil menangis. Tak lama kemudian Jessica dan Donghae pun datang ke tempat dimana mereka bertengkar.
“Yyul.. tenang-tenang. Jangan emosi dulu, gak enak ini tempat umum. Kan tadi aku udah bilang, semua nya kita bicarain di rumah berempat dengan tenang jangan kayak gini”. Kata Jessica sambil memeluk Yuri. Akhirnya Jessica membawa Yuri ke tempat yang agak jauh dari sana.
“Hei Minho!!!! Mengapa kau berbuat seperti itu? kau gak tau ya gimana perasaan seorang perempuan yang di giniin sama kamu. Kamu pikir enak jadi Yuri? Dia kasian. Dia juga sakit juga gara-gara kamu Minho-ssi. Aku sebagai calon kakak ipar mu, aku sangat kecewa dengan apa yang kamu buat sekarang. Aku mohon, sekarang juga kamu tinggalkan yeoja itu dan segera minta maaf dengan tulus pada Yuri dan berjanji tidak akan mengulangi ini. Kau harus jadi cowok yang gentlemen! Sana cepat minta maaf sama dia di hadapan orang-orang yang negliat kita semua”. kata Donghae menasihati, Minho segera berlari kea rah Yuri yang sangat menangis tersedu-sedu(?).
“Nuna. Kali ini aku benar-benar minta maaf dengan mu. Aku berjanji gak akan ngulangin ini semua. aku sadar memang ini semua kesalahanku dan aku minta maaf sama Nuna dengan setulus hati, tanpa permintaan dari Hae Hyung. Kali ini aku benar-benar berjanji Nuna. Kau harus percaya pada ku”. Kata Minho sambil memegang tangan Yuri dan terlihat mata nya berkaca-kaca.
“Tidak. Aku tidak akan pernah percaya sama kamu sedikit pun. Kamu udah ngelakuin hal ini 3x, kedua kali aku masih bisa maafin. Sekarang bener-bener aku gak bisa maafin kamu”. Jawab Yuri dengan tegas dan akhirnya ia berlari menuju pintu supermarket. Donghae, Minho, Jessica dan Jiyeon semua ikut berlari menyusul dia.
“Yuri Nunaaa!!!!!! Tunggu aku. Biar ku jelaskan ini semua”. kata Minho sambil mengejar Yuri dan menahan tangannya.
“Lepas kan tanganku!!!! Tadi aku sudah bilang, maaf aku gak akan bisa maafin kamu lagi”. Jawab Yuri sambil berlari dan menyetop taksi, lalu menaiki nya.
“Yuri!!!!! Tunggu Yuri!!! Kau mau kemana”. Teriak Jessica dan Donghae.
“Heh! Kamu itu jadi sepupu kok gak bener banget sih. Sekarang kita gak bisa ngejar Yuri! Pokoknya kalo ada apa-apa sama Yuri. Kamu harus tanggung jawab. Untuk saat ini dan HaeOppa tidak bisa maafkan kamu”. Kata Jessica dengan nada tinggi, emosi lalu masuk ke mobil dan pulang ke rumah meninggalkan Minho.
“Oppa. Lalu bagaimana dengan ku?”. Tanya Jiyeon dengan muka memelas.
“Ah!!!!!! Sudahlah pergi sana!!!! Kau hanya bisa menjadi perusak hubungan orang”. Jawab Minho sambil meninggalkan Jiyeon lalu masuk ke dalam taksi dan pergi.
“Opppaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!! Tungguuuuuuu!!!!!”. Jawab Jiyeon sambil teriak.
            Semua keadaan sangat hancur sekarang. Mereka semua gak tau kemana Yuri akan pergi. Dan hari ini, Minho juga tidak pulang ke rumah Jessica. Ia akan tinggal sementara di penginapan pada saat pertama kali ia datang ke Busan, ia ingin menenangkan diri nya sejenak.
            Lain hal nya dengan Yuri, ia tidak jelas ingin pergi kemana. Yang jelas, ia ingin meninggalkan kota Busan untuk menjauh dari Minho. Teringat akan temannya yang tinggal di Incheon, Tiffany Hwang, ia langsung menelpon nya dan menuju rumah Ppany untuk tinggal sebentar disana.
Yeobbosaeyo….”. kata Ppany dalam telepon.
Yeobbosaeyoo… Ppany-ssi. Ini aku Yuri, kau masih ingat dengan ku?”. Jawab Yuri dalam telepon sambil menahan tangis.
“Yuri??? Yuri yang waktu itu teman SMA ku di Hanyoung High School? atau yang mana? Maaf aku agak lupa, hehe”. Tanya Tiffany dengan nada bingung.
“Ya, aku teman mu dulu. Sekarang kau masih menjadi chef, apa kabar dengan mu?”. Jawab Yuri.
“Yuri-yaaaaa. Aku baik-baik saja, ih aku kangen banget sama kamu. Ya aku masih jadi chef, sekarang pekerjaan mu apa? Ada apa nih ngomong-ngomong tumben telpon aku hehee”. Kata Tiffany dengan nada gembira.
“Aku jadi seorang pramuniaga di sebuah Florist. Um.. rumah mu masih di Incheon kan? Kalo kamu mau, boleh gak sekarang aku main ke rumah mu? Aku sedang dalam perjalanan”. Jawab Yuri dengan berusaha menutupi kesedihannya.
“Ya aku masih di Incheon. Boleeeeh bangeeet aku tunggu yaaaa. Ngomong-ngomong ada apa dengan mu? Kau habis nangis?”. Tanya Tiffany yang tiba-tiba nada suara nya berubah menjadi sedikit khawatir.
“Hahaa.. tidak, nanti aku akan jelas kan semua nya. Annyeong”. Jawab Yuri lalu mematikan ponsel nya.
            Perjalanan ke Incehon hari ini memakan waktu 1 ½ jam, karena lancar. Biasanya bisa di tempuh dengan waktu 2-3 jam menggunakan kendaraan darat. Sampailah Yuri di kota Incheon, lalu ia sms Tiffany untuk meminta alamat rumahnya.  Tiba-tiba Jessica mengirmkan pesan kepada Yuri.
Ø Yuri-yya………. Kau ada dimana? Pulanglah secepatnya. Kami semua khawatir dengan mu. Minho sudah aku dan Hae Ppa atasi kok.
ü Tidak usah khawatirkan ku Sica, pada saatnya nanti aku akan pulang ke rumah. Miss you Sica.
Yuri membalas sms dengan menitikkan sedikit air mata nya. Tiba-tiba ia telah sampai di depan rumah Tiffany. Dengan hati sangat hancur, ia mengetuk pintu rumah Tiffany dan kebetulan Tiffany yang langsung membukakan pintu nya.
“Yuriiiii………. Ayo masuk yuk!!! Aku kangen sekali dengan mu”. Kata Tiffany sambil membuka pintu lalu memeluk Yuri dan masuk ke dalam rumah nya.
“Ppany.. aku juga kangen banget sama kamu, udah lama banget ya kita gak ketemu. Rumah mu juga sepertinya agak lebih besar ya?”. Tanya Yuri sambil melihat ke tiap sisi rumah Ppany.
“Ah kau ini bisa aja. Cuma di renovasi sedikit aja kok Yyul. Btw, kamu mau minum atau makan apa Yyul? Tunggu ku buatkan dulu ya”. Jawab Tiffany lalu meninggalkan Yuri ke dapur.
“Eh, gausah Ppany gak papa kok aku gak lapar Cuma sedikit haus aja hehe. Maaf banget loh udah ngerepotin”. Kata Yyul. Tiffany mengangguk.
            Sambil menunggu Ppany, Yuri melihat-lihat foto-foto yang terpampang di dinding ruang tamu rumah Ppany. Disana ada foto Tiffany dan Jessica, ada juga yang foto dengannya, foto dengan keluarga nya. Tetapi, ada satu foto yang membuat Yuri agak shock. Yaitu foto Minho bersama Tiffany dan eomma nya. Ia segera duduk kembali menyegarkan pikirannya, dan Ppany juga datang dari dapur membawa secangkir coklat panas untuk Yuri.
“Nih Yyul minum dulu. Masih suka hot chocolate kan?”. Tanya Ppany sambil memberi cangkir cokelat panas.
“Kamu masih inget aja Ppany, makasih banyak loh ya”. Jawab Yuri sambil meminum susu cokelat nya dan Tiffany juga meminumnya.
“Ohiya Yyul, katanya kamu mau cerita sama aku, ada apa?”. Tanya Ppany di tengah acara minum bersama nya.
“Oh iya. Jadi gini, aku punya pacar namanya Minho. Dia itu bener-bener pengkhianat banget Ppany. Aku udah ga percaya lagi sama cowok manapun. Kejadian tadi siang, aku lagi ke supermarket bareng sama temen. Trus, aku liat dia sama yeoja lain lagi pelukan, gandengan tangan, nyium kening nya. Mesra banget, aku gak bisa liat situasi kayak gitu akhirnya aku bertindak dan aku kabur pergi ke sini”. Cerita Yuri sambil menangis, Ppany pun menenangkannya.
“Tenang ya. Udah kamu gak usah sedih lagi, untuk sementara tinggal aja dulu disini ya. Lagipula rumah ku juga kosong kok. Oh iya, Minho? Maksud mu Choi Minho yang ini?”. Tanya Ppany sambil mengambil foto di dinding rumah nya.
“Iyaaa!!! Iya itu dia… dia itu pacar ku. Kau kenal dengan nya? Kenapa dia bisa berfoto dengan mu dan Eomma mu?”. Kata Yuri dengan bingung.
“Umm… jadi… dia itu adik tiri ku. Papa ku nikah lagi sama ibu nya Minho, sedangkan aku ikut eomma ku tinggal disini. Ya, Minho itu emang keras kepala dia tipe cowok yang gak bertanggung jawab. Kami pernah tinggal serumah sama dia, ya tapi terpaksa eomma ku ngusir dia karena gak tahan sama kelakuannya. Ya tapi, udahlah lupain aja ya? Sekarang berhubung udh malem. Kita istirahat, oke? Tuh aku ada kamar kosong masih bersih kok. Kamu bisa tidur disitu untuk sementara, oke?”. Kata Tiffany dan Yuri mengangguk.
            Akhirnya mereka semua menuju ke kamar masing-masing dan istirahat bersama.
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar